POKMASWAS Yasa Bengiat Belajar Mengembangbiakkan Dan Membesarkan Kima

with No Comments
Pengembangbiakan Jenis Ikan/Kima dan Koral POKMASWAS Yasa Segara Bengiat, Nusa Dua Bali
Pengembangbiakan Jenis Ikan/Kima dan Koral POKMASWAS Yasa Segara Bengiat, Nusa Dua Bali

Semangat dalam mengembangkan wilayah pesisir yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan di Bali terus berjalan tiada henti. Melalui kegiatan “Pengembangbiakan Jenis Ikan / Kima dan Karang Berbasis Pada Masyarakat” BPSPL Denpasar terus menyebarkan semangat tersebut. Sebanyak 25 anggota Pokmaswas Yasa Segara Bengiat, Nusa Dua Bali mengikut kegiatan tersebut. Kegiatan dibuka secara langsung oleh Bapak Ikram M Sangdji Kepala BPSPL Denpasar disertai dengan penyerahan bantuan kepada masyakarat berupa 15 set alat selam dasar. Kima merupakan jenis ikan yang dilindungi melalui Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati yang diperkuat lagi dengan keluarnya UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan┬áPemerintah No. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan.

Sejalan dengan konservasi pengembangbiakan kima di lokasi tersebut, anggota Pokmaswas Yasa Segara Bengiat diberikan pengetahuan dalam mengembangbiakkan dan merawat kima. Kima (Tridacna sp) atau Giant Clams merupakan hewan laut yang dikenal dengan sebutan kerang raksasa, karena salah satu spesiesnya mampu tumbuh hingga lebih dari 1 meter. Terdapat 7 Spesies Kima di Indonesia dari 10 jenis yang ada di dunia, yaitu Kima raksasa (Tridacna gigas), Kima lubang (Tridacna crocea), Kima air (Tridacna derasa), Kima sisik (Tridacna squamosa), Kima pasir (Tridacna hipopus hippopus), Kima besar (Tridacna maxima) dan Kima cina (Tridacna hipopus porcelanus). Pengembangbiakan Kima di lokasi tersebut diharapkan dapat mengembalikan populasi kima di Nusa Dua dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dan pariwisata yang ramah lingkungan dan bernilai edukasi.

Selain Kepala BPSPL Denpasar, hadir juga sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Syafyuddin Yusuf (UNHAS) seorang ahli pengembangbiakan kima, Pariama Hutasoit dari Nusa Dua Reef Foundation, dan Andre Mustain dari Yayasan LINI. Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, bukan hanya baru buat mereka namun semua peserta juga sangat tertarik bagaimana cara mengembangbiakkan kima. Kima masuk golongan hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang, bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran berlapis, alat gerak berupa kaki perut yang termodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis, melekatkan diri pada substrat berbatu dengan semacam rambut atau organ/otot yang disebut byssus, inilah yang kelak akan melekatkan kima ke substrat dengan keras hingga sulit diangkat. Peranan Kima di alam adalah Penyaring (filter feeder) karena secara ekologis kima adalah hewan yang bertugas untuk menyaring air. Kima dijuluki penjaga kebersihan perairan. Kima juga dikenal sebagai Indikator, karena adanya kima menjadi penanda bahwa perairan tersebut masih baik dan tidak adanya bahan pencemar dan menjadi indikator perubahan suhu. Dr. Syafyuddin Yusuf juga menjelaskan bahwa Kima dapat dipelihara dengan 2 model yaitu (1). Pemeliharaan Terlindung di Laut (Ocean Nursery) dan (2). Pemeliharaan Terbuka di Laut. Sedangkan untuk pembenihan dapat dilakukan di marine station atau fasilitas pembenihan. Pertumbuhan kima ini sangatlah lambat, pertumbuhan tertinggi kima hanya 10,7 mm/bulan. Permasalahan yang sering timbul dalam pemeliharaan kima adalah : penanganan selama transport; kurang atau kesalahan aklimatisasi; kesalahan pemilihan lokasi (ombak, kekeringan surut); kesalahan pemilihan metode dan serangan predator (Cymantium, Muray).

Leave a Reply