Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Sumba Timur

with No Comments
[Tiwi] Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki luas daratan 7000,50 ha, merupakan kabupaten terbesar ke dua setelah Kabupaten TTS. Dengan panjang garis pantai 433,6 km dan luas laut 8.373,51 km2, Sumba Timur menyimpan potensi yang cukup besar di bidang kelautan dan perikanan. Selain ikan-ikan ekonomis, di perairan Sumba Timur juga terdapat jenis-jenis ikan dilindungi dan terancam punah seperti penyu, ikan hiu, ikan napoleon, dan kuda laut. Tidak hanya ikan, mamalia laut seperti paus, duyung, dan lumba-lumba sering dijumpai di perairan Sumba Timur, terutama lumba-lumba. Hal ini disampaikan oleh Bpk Umar Aceh, seorang nelayan yang juga merupakan anggota POKMASWAS dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penanganan Mamalia Laut Terdampar. “Selama ini sering sekali terjadi atau setiap bulannya pasti ada saja lumba-lumba yang terjerat di jaring para nelayan. Karena nelayan takut dengan aturan bahwa ikan ini dilindungi, maka mereka langsung membawanya pulang ke rumah dan membagi-bagikan ke masyarakat”.

Bimbingan Teknis Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Sumba Timur ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar. Kegiatan ini dilaksanakan di selama 2 (dua) hari yaitu pada tanggal 20 – 21 Juni 2014. Narasumber yang memberikan materi ini merupakan praktisi yang aktif dalam menangani penyelamatan mamalia laut di Indonesia, yaitu Februarty S. Purnomo dari Whale Stranding Indonesia dan I Made Jaya Ratha dari Conservation Internasional Indonesia. Secara bergantian mereka menyampaikan materi Kejadian Mamalia Laut Terdampar di Indonesia: Udate dan Rencana 2014, Anatomi Paus dan Lumba-lumba (Cetasean), Aspek Kesehatan Hewan dalam Penanganan Mamalia Laut Terdampar, dan Cara Penanganan Mamalia Laut Terdampar.

Dalam memberikan pertolongan pertama pada mamalia laut yang terdampar harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai membuat hewan tersebut stress. Pastikan bahwa posisi lubang nafas dan sirip dorsal/punggung berada di atas. Lindungi blow hole/lubang nafas dari pasir, benda asing lain maupun air. Lindungi juga matanya dari pasir atau benda asing lainnya. Hindari menarik sirip dada dan ekor karena dapat menyebabkan patah tulang dan membunuh hewan tersebut. Lindungi dari sinar matahari dan angin serta jaga kelembaban tubuh hewan tersebut agar tidak dehidrasi. Gunakan handuk/selimut basah untuk menutupi tubuhnya, namun jangan tutupi lubang nafasnya dan sirip (terutama sirip dorsal). Jika kondisi hewan sehat, dikembalikan lagi ke laut. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

prosedur_mamalia_terdamparJika mamalia laut yang ditemukan sudah dalam keadaan mati, cara penanganannya yaitu dapat dikubur, dibakar, atau ditenggelamkan ke laut. Tidak disarankan untuk dikonsumsi seperti yang sering dilakukan oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan aspek kesehatan orang yang mengkonsumsi. Mamalia laut yaitu paus dan lumba-lumba merupakan top predator dalam rantai makanan di laut dan merupakan hewan yang memiliki range daerah migrasi yang luas, sehingga hewan ini merupakan penyimpan akhir atau akumulasi berbagai kontaminan yang ada di laut. Kita tidak pernah mengetahui apa saja yang mereka makan, dan daerah mana saja yang sudah mereka lewati, apakah kondisi perairan yang dilewati masih baik atau sudah tercemar. Beberapa mamalia laut yang terdampar, ketika dinekropsi/dibedah untuk mengetahui penyebab kematiannya, ditemukan parasit, bakteri, virus, bahkan logam berat yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

Informasi tentang kejadian terdampar di Indonesia sangat sedikit, apalagi jika terjadi di kota-kota kecil atau daerah terpencil. Padahal informasi tentang kejadian terdamparnya mamalia laut sangat penting untuk upaya penyelamatan hewan yang sudah mulai langka ini. Selain itu, hewan yang merupakan indikator perairan kita ini dapat memberikan informasi tentang status atau kondisi perairan di laut, sehingga membantu dalam pengambilan kebijakan jika diketahui telah terjadi sesuatu yang buruk di laut kita. Oleh karena itu, suatu bentuk kerjasama atau jejaring penanganan mamalia laut terdampar perlu dibentuk.

Sadar akan pentingnya jejaring penanganan mamalia laut terdampar, akhirnya dalam kegiatan bimtek ini terbentuklah jejaring penanganan mamalia laut terdampar di Sumba Timur yang dikoordinatori oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Susunan bentuk jejaringnya dapat dilihat pada gambar berikut:

jejaring_sutimTidak hanya membentuk jejaring penanganan mamalia laut, namun para elemen masyarakat yang tergabung dalam jejaring ini dilatih bagaimana menangani mamalia laut yang terdampar dengan melakukan simulasi di Lantai Londalima pada hari kedua pelaksanaan bimtek. Mereka diajari bagaimana memindahkan lumba-lumba dari badan air dengan tandu dan matras, menyelamatkan lumba-lumba yang terdampar di pantai (single dan mass stranding), mengembalikan lumba-lumba dari pantai ke air dalam perahu, dan memindahkan ke teluk lain dengan truk.

Mudah-mudahan dengan terbentuk dan terlatihnya jejaring penanganan mamalia laut ini, masyarakat semakin sadar akan bahaya mengkonsumsi mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba, serta tanggap dalam menangani mamalia laut yang terdampar.

mamals_ntt4  mamals_ntt5

mamals_ntt1  mamals_ntt2

Leave a Reply