Kondisi Terkini Jenis Ikan dan Karang di Bima

with No Comments

survei_jenis_ikan_mataramSalah satu parameter yang dapat digunakan untuk menilai kualitas lingkungan laut adalah kelimpahan dan kesehatan terumbu karang dan ikan. Suatu lingkungan laut yang baik umumnya memiliki ikan dan/atau terumbu karang yang melimpah dan sehat. Untuk mengetahui kondisi ikan dan terumbu karang tersebut perlu dilakukan survei pengukuran di lapangan. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, sebagai instansi pemerintah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil telah melakukan survei dan pemantauan populasi jenis ikan dan terumbu karang yang dilindungi pada tahun 2012. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperoleh data terkini tentang populasi dan persebaran jenis ikan yang dilindungi dan/atau tidak dilindungi di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Hasil kegiatan ini salah satunya akan disajikan dalam bentuk peta persebaran jenis ikan.

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah adanya dukungan berupa data kondisi perairan dalam upaya menentukan kebijakan perlindungan, pemanfaatan, peredaran dan pengawasan jenis ikan dilindungi dan tidak dilindungi di wilayah kerja BPSPL Denpasar. Kegiatan survei ini dilaksanakan oleh Tim Wilker Mataram, yaitu Yudistio Wahyudi, Baiq Ida Purnawati. Muhammad Supriyadin, A. Syahruddin  didukung oleh tenaga ahli dari Reef Check Indonesia (Derta Prabuning).

Ada dua metode yang dilakukan pada saat pelaksanaan survei, yaitu wawancara dan observasi/pengukuran langsung di lapangan. Wawancara dilakukan terhadap nelayan, pengepul, serta masyarakat pesisir. Sebagai pelengkap atau penyelia data dari hasil wawancara ini, juga dikumpulkan data dari instansi terkait. Sementara itu observasi/pengukuran dilakukan dengan metode line intercept transect/LIT untuk mengetahui kondisi, populasi dan persebaran karang dan jenis ikan secara langsung.

Lebih lanjut dapat diuraikan bahwa kondisi terumbu karang di beberapa titik pengamatan adalah berupa tutupan karang keras dengan persentase tutupan antara 24% sampai 70%.  Namun sayang, kondisi terumbu karang di sebagian besar wilayah survei telah mengalami kerusakan yang parah. Faktor penyebabnya adalah masih maraknya penangkapan ikan dengan alat tangkap yang tidak merusak seperti pemakaian bom dan potasium. Di lokasi penyelaman masih dapat ditemukan dengan jelas bekas-bekas pengeboman yang sunguh-sunguh merusak terumbu karang yang ada.

Dari kegiatan ini, paling tidak ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama, kondisi terumbu karang di Kota/Kabupaten Bima sangat memperihatinkan. Kedua sesegera mungkin diupayakan kegiatan rehabilitasi terumbu karang untuk memulihkan kondisi  ekosistem terumbu karang seperti sedia kala.

Leave a Reply