Hiu dalam Ancaman Kepunahan

with No Comments

Tiwi (Kupang) Selasa, 18 Februari 2014 tim BPSPL Denpasar berangkat dari Kupang menuju Maumere, Kab. Sikka, maksud melakukan koordinasi terkait pelaksanaan kegiatan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K). Karena masih terlalu pagi untuk ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Sikka, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dahulu ke pasar untuk melihat-lihat jenis-jenis ikan yang dijual di Maumere.

Tiba di Pasar Alok, pasar tradisional di Maumere, kami langsung menuju tempat penjualan ikan. Yang pertama kali kami temukan adalah ikan hiu yang sudah dipotong sirip dan kepalanya. Yang tersisa hanya badan. Ikan hiu ini dijual dengan harga Rp 100.000,-. Selain itu ada juga potongan-potongan daging hiu yang dijual satu kumpulnya Rp 20.000,-, setengah dari potongan kepala hiu yang juga dijual Rp 20.000,-. Bagaimana dengan siripnya? Sirip hiu tidak dijual di pasar ini namun dijual ke pengumpul setelah dikeringkan. Harganya berkali-kali lipat dari harga dagingnya. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari penjual ikan hiu ini, 1 kg sirip ikan hiu kering dijual dengan harga jutaan rupiah. Sangat susah mendapatkan informasi dimana pengumpulnya berada, mereka agak tertutup terkait hal ini.

tiwi_hiu0

Ikan hiu merupakan jenis ikan sub kelas Elasmobranchii atau bertulang rawan. Saat ini, populasi hiu mengalami penurunan cepat dan drastis di seluruh dunia. Ini akibat adanya permintaan akan sirip hiu terus meningkat di pasar internasional. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor hiu terbesar di dunia. Sekitar 150.000 hiu dibunuh setiap tahun, lantas sirip-siripnya dijual ke Hongkong dan China.

Bagi komunitas Cina, hidangan sirip hiu merupakan lambang kemewahan, disajikan pada acara-acara khusus seperti pernikahan Cina atau jamuan istimewa. Harganya pun cukup fantastis, tergantung porsi dan ukuran, berkisar antara 700 ribuan hingga 2 juta rupiah untuk satu porsi. Padahal dalam sebuah penilitian terbaru yang dilakukan peneliti asal Amerika Serikat menemukan bahwa sup sirip hiu berbahaya bagi kesehatan manusia. Sirip hiu mengandung racun kadar tinggi yang dapat menyebabkan gangguan otak.

Saat ini, hiu memang menghadapi ancaman besar kepunahan karena perburuan siripnya. Populasi hiu menjadi sangat rentan karena pola reproduksinya yang lambat. Seekor hiu karang membutuhkan waktu 7-15 tahun untuk menjadi dewasa secara seksual. Setelah dewasa, hiu hanya mampu bertelur atau melahirkan (bergantung pada jenis hiu) sebanyak 1-10 anak dengan frekuensi reproduksi satu kali setiap 2-3 tahun.

Hiu merupakan hewan predator di laut dan berada pada top level piramida makanan. Berkurangnya hiu akan berdampak pada rantai makanan di laut. Begitu hiu punah, populasi ikan yang biasa menjadi mangsanya, seperti tuna dan kerapu menjadi meningkat. Kedua jenis ikan itu akan memangsa ikan-ikan di bawahnya secara besar-besaran. Dalam waktu singkat, ikan-ikan yang biasa dimakan tuna dan kerapu juga akan habis. Kehabisan makanan, memungkinkan kedua ikan itu lambat laun juga mengalami kepunahan.

Pertemuan CoP ke-16 CITES 2013 di Bangkok, membawa harapan baru pemulihan ikan hiu. Dunia berkomitmen memperketat perburuan dan perdagangan ikan hiu. Dalam pertemuan tersebut menetapkan 3 jenis hiu martil dan 1 jenis hiu koboi masuk dalam appendix II CITES, artinya pemanfaatan dan perdagangannya dikendalikan sehingga terhindar dari bahaya kepunahan.

@Didi Sadili

Sebagai negara yang meratifikasi CITES, Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang mempersiapkan peraturan menteri yang membatasi penangkapan tiga spesies hiu martil (Sphyrna zygaena, Sphyrna lewini, Sphyrna mokarran) dan 1 spesies hiu koboi (Carcharhinus longimanus) tersebut.

Leave a Reply