Bimtek Penanganan Hiu Paus Digelar Di Kenjeran Surabaya

with No Comments

 

Terjebaknya hiu paus di Kanal PLTU Paiton pada bulan Februari yang lalu menjadi konsentrasi BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut) Denpasar, Ditjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberikan Bimbingan Teknis Penanganan Hiu Paus sejak awal. Bertempat di Ruang Pertemuan Sentra Pasar Ikan Bulak Kenjeran Surabaya Provinsi Jawa Timur tanggal 22 April 2015 upaya memberikan arahan terkait dengan penanganan dan perlindungan hiu paus tersebut dilakukan. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder, POKMASWAS, serta dari Perguruan Tinggi di Surabaya. Wilayah Kenjeran merupakan salah satu lokasi yang paling sering terjadi kasus terdamparnya Hiu Paus di Jawa Timur. Tercatat selama tahun 2014 terdapat 5 kejadian dengan 1 diantaranya berhasil diselamatkan. Hiu paus adalah jenis ikan yang dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2013. Dengan status perlindungan penuh tersebut masyarakat tidak boleh menangkap serta membunuuh spesies tersebut.

BPSPL Denpasar melalui Bapak Permana Yudiarso menjelaskan mengenai kebijakan perlindungan dan penanganan hiu paus di Indonesia. Selain itu juga disampaikan kode penanganan hiu paus yang telah disusun oleh BPSPL Denpasar dengan harapan bahwa ketika terjadi kejadian hiu paus terjerat, terdampar atau terjebak dapat ditangani oleh jejaring penanganan. Untuk memberikan pemahaman yang baik kepada peserta, BPSPL Denpasar juga mengundang seorang yang cukup memahami terkait Hiu Paus yaitu Casandra Tania dari WWF. Disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah : Studi kasus Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cendrawasih; Penanganan Hiu Paus dan Pengambilan Sample. Dengan berbekal pengalaman yang dimiliki, penjelasan Ibu Casandra Tania sangat menarik, jelas dan terperinci terait dengan penanganan hiu paus. Minimnya data terkait dengan migrasi dan sebaran hiu paus di perairan Jawa Timur disampaikan oleh Ibu Rini dari DKP Provinsi Jawa Timur, sehingga perlu dilakukan penelitian oleh lembaga yang berwenang. Perlunya penataan jalur migrasi di selat Madura juga perlu dilakukan agar keterancaman ikan terbesar di muka bumi ini dapat diminimalisir. Dan terakhir dalam pelatihan tersebut adalah penyampaian simulasi dan penyampaian materi tentang aspek kesehatan dalam penanganan hiu paus. Sinergisitas dan koordinasi yang baik merupakan kunci keberhasilan dalam menyelamatkan hiu paus ini dari kepunahan.

Leave a Reply