Bahaya Mengkonsumsi Penyu…!

with 1 Comment

(TIWI) Masih dari Pasar Alok, Maumere. Selain jenis ikan hiu yang ditawarkan di pasar tersebut, setelah berjalan lebih ke dalam, kami menemukan lima kumpul daging penyu yang dijual dengan harga 20 ribu rupiah, sepasang tungkai depan dan sepasang tungkai belakang yang dijual dengan harga 30 ribu rupiah. Sangat menyedihkan!
tiwi_penyu0
Penyu merupakan reptil yang hidup di laut dan keberadaannya telah lama terancam, baik dari alam maupun kegiatan manusia yang membahayakan populasinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara internasional, penyu masuk ke dalam daftar merah (red list) di IUCN dan Appendix I CITES yang berarti bahwa keberadaannya di alam telah terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya harus mendapat perhatian secara serius.

Siklus hidup penyu sangat panjang (terutama penyu hijau, penyu sisik, dan penyu tempayan) dan untuk mencapai kondisi “stabil” (kelimpahan populasi konstan selama 5 tahun terakhir) dapat memakan waktu cukup lama sekitar 30-40 tahun. Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia diberikan status dilindungi oleh negara sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sangat disayangkan, sudah lebih dari 14 tahun penyu di Indonesia dilindungi namun masih saja banyak ditemukan kasus seperti ini, terutama di Indonesia bagian timur. Sangat jelas, status perlindungan saja tidak cukup untuk memulihkan atau setidaknya mempertahankan populasi penyu di Indonesia. Selain pengawasan regulasi dan penindakan hukum secara tegas, diperlukan penyadaran terhadap mereka yang masih menangkap, memperdagangkan, dan mengkonsumsi produk penyu.

Pendapat yang beredar di kalangan masyarakat awam menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi penyu dan atau telur penyu dapat menjadi ramuan obat dan kecantikan hanyalah mitos belaka. Bukan obat dan kecantikan yang didapatkan, tetapi penyakit yang beresiko menimbulkan kerusakan lever. Alonso Aguirre dkk dalam EcoHealth Journal (2006), yang berjudul Hazards Associated with the Consumption of Sea Turtle Meat and Eggs: A Review for Health Care Workers and the General Public menyatakan bahwa “…produk Penyu Laut (seperti daging, organ tubuh, darah, telur, dll) merupakan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat di kebanyakan negara walaupun telah dilarang oleh peraturan. Bagaimanapun, mungkin terdapat bahaya (hazards) terkait dengan konsumsi ini dikarenakan adanya bakteri, parasit, biotoksin dan zat pencemar lingkungan laut lainnya. Pengaruh kesehatan mengkonsumsi penyu yang terinfeksi oleh zoonotic pathogens yang dilaporkan diantaranya diare, mual-mual (muntah) dan dehidrasi ekstrim sering berakhir di Rumah Sakit dan berakibat pada kematian. Tingkat logam berat dan campuran Organochlorine yang diukur pada Penyu laut sering berdampak pada gangguan syaraf (neurotoxicity), penyakit ginjal, kanker lever serta berpengaruh terhadap perkembangan janin dan anak”.

Selain itu,  dalam jurnal Environmental Health Perspective di tahun 2009, yang berjudul ‘Dangerous Delicacy’ – Contaminated Sea Turtle Eggs Pose A Potential Health Threat melaporkan hasil penelitian kandungan zat kimia dari sampel telur penyu yang dijual di Peninsula Malaysia. Hasilnya, ditemukan kandungan senyawa yang tergolong Polutan Organik Persisten (POP) dan logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Kanker, liver, kerusakan sistem syaraf, dan gangguan sistem hormon endokrin adalah daftar penyakit yang dapat ditimbulkan dari zat berbahaya itu. Kandungan polychlorinated biphenyl atau PCB dalam telur penyu juga relatif tinggi yakni 300 kali di atas batas aman harian yang ditetapkan oleh lembaga WHO. PCB merupakan senyawa yang dilarang oleh Kongres AS sejak 1979 setelah terkait dengan kasus cacat lahir dan berbagai jenis kanker.

Tidak hanya itu, dalam dekade terakhir, telur penyu juga dilaporkan mengandung kadar kolestrol yang sangat tinggi. Ya, satu telur penyu ternyata mengandung lemak dan kolestrol setara dengan 20 telur ayam. Kadar kolestrol tinggi akan berpotensi meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke.

Bukti nyata bahwa produk penyu berbahaya yaitu kejadian pada tahun 2012 silam. ANTARA News melaporkan bahwa 4 orang meninggal setelah mengkonsumsi daging penyu di Desa Agitci, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Peristiwa itu terjadi saat sejumlah warga menangkap penyu dan kemudian memasaknya. Daging penyu tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat. Usai menyantapnya, warga merasakan gejala berupa pusing, mual-mual, kemudian muntah. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada pertengahan tahun 2012 di Desa Cimpungan, dan Desa Saibi.

Masih tertarik mengkonsumsi penyu?? Think again..!!

One Response

  1. wismaneli
    | Reply

    Hidup BPSPL Denpasar…

Leave a Reply