Antara Pari Manta, Desa Watubuku Dan Desa Motonwutun Flores Timur

with No Comments
Bapak Fikar (BPSPL Denpasar) Sedang Menyampaikan Sosialisasi Kepada Masyarakat
Bapak Fikar (BPSPL Denpasar) Sedang Menyampaikan Sosialisasi Kepada Masyarakat

Desa Watubuku dan Motonwutun terletak di Kecamatan Solor Timur Kabupaten Flores Timur. Wilayah perairan Flores Timur dikaruniai kekayaan alam laut yang sangat luar biasa banyak. Berbagai jenis ikan ekonomi penting, ikan karang, dan bergai jenis pari termasuk pari manta. Secara turun menurun dan tradisi adat kedua masyarakat desa tersebut telah lama memanfaatkan Pari manta sebagai salah satu mata pencarian mereka. Pari manta ditangkap lalu dijual kepada pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari. Dimana ada permintaan pari manta, maka nelayan di kedua desa tersebut akan memenuhi permintaan tersebut. Telah ada hubungan erat antara nelayan dan pedangan pengumpul atau pembeli pari manta.

Perlu diketahui bahwa, pari manta merupakan salah satu jenis ikan yang telah dilindungi secara penuh oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2004. Perlindungan penuh ditetapkan ketika suatu spesies atau jenis ikan telah terancam kepunahannya, sehingga jika terus-menerus diambil akan menyebabkan kepunahan bagi jenis ikan tersebut. Dengan perlindungan penuh pari manta tersebut, menempatkan posisi yang sama dengan spesies lainnya seperti gajah, harimau serta spesies lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Akan ada konsekuensi hukum terhadap pemanfaatan spesies jenis ikan yang telah dilindungi tersebut.

Berawal dari kasus penangkapan salah seorang warga Lamakera di Larantuka yang menjual 13 kg insang manta oleh Kepolisian Resort Flores Timur, sosialisasi perlindungan manta semakin digencarkan dan diperluas ke desa desa. Rapat koordinasi yang intensif dilakukan pada 24 Agustus 2015 di BAPPEDA Flores Timur. Instansi terkait dan perwakilan nelayan hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya DPRD, BPSPL Denpasar, DKP, Disperindag, Dishubkoninfo, KPIN PT, BLHD, BAPPEDA, Missol Baseftin, Nelayan dan Pengepul. Dihasilkan 4 Rekomendasi yaitu :

  1. Diadakannya sosialisasi yang akan diakomodir oleh Dinas Kelautan Perikanan Flotim. Sosialisasi ditujukan ke Kepala Tujuh Suku Lamakera.
  2. Pada prinsipnya sebagian besar masyarakat sudah bersedia berproses untuk menjalankan KEPMEN KP No. 4 tahun 2014.
  3. Pembinaan untuk para pengepul dan penjual insang pari manta. Pembinaan diserahkan kepada Pihak Kecamatan dan Kapolsek. Tembusan untuk pembinaan diakomodir oleh Dinas Kelautan Perikanan Flores Timur.
  4. Perwakilan Kementerian Kelautan Perikanan dalam hal ini BPSPL Denpasar, akan menindaklanjuti hasil rapat ke Kementerian.

Pada tanggal 12 Oktober 2015 sosialisasi dilakukan di Desa Watubuku dan Motonwutun. Diantara tim sosialisasi tersebut adalah Rizka Dzulfikar (BPSPL Denpasar); Erna Da Silva (Kepala Dinas KP Flores Timur); Moh Ikram (Kabid Pengawasan DKP Flores Timur; Syafarudin dan Michael (DPRD Flores Timur); Edi (Dandim Udayana Flores Timur); POLAIR serta dari Yayasan Reef Check Indonesia. Disampaikan dalam sosialisasi tersebut bahwa jenis Pari Manta telah ditetapkan sebagai jenis yang dilindungi oleh pemerintah. Meskipun dilematis bahwa pari manta selama ini dimanfaatkan oleh nelayan, namun peraturan harus ditegakkan dan solusi harus dibuat. Solusi dimana nelayan mendapatkan mata pencarian lain yang dapat menunjang kehidupan mereka serta bantuan harus tepat sasaran pada nelayan. Sebagai hasilnya adalah masyarakat Desa Watobuku menerima sosialisasi tersebut sedangkan masyarakat Desa Motonwutun tetap menolak.

Mata pencaharian alternative harus dibuat, misalnya adalah penggunaan teknologi pengolahan ikan tepat guna atau yang lain yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat. Masyarakat nelayan yang terdampak secara langsung harus mendapatkan prioritas utama. Jika pengalihan mata pencaharian ini berhasil, maka sudah tentu Desa Motonwutun akan menerima. Mereka juga tidak mau terus-menerus berurusan dengan hukum sebagaimana telah ada satu orang yang ditangkap karena menjualbelikan insang manta. BPSPL Denpasar berkomitmen melakukan pengelolaan jenis ikan, sejalan dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut. [hnc]

Leave a Reply